Obsesi Hijau: Apakah Kita Benar-Benar Suka Matcha, atau Cuma Suka "Vibe"-nya?

Obsesi Hijau: Apakah Kita Benar-Benar Suka Matcha, atau Cuma Suka "Vibe"-nya?

Beberapa tahun lalu, matcha adalah minuman yang "terpinggirkan". Bagi banyak orang, rasanya asing, pekat, dan sering kali diejek dengan kalimat: “Ini sih rasa rumput tetangga yang diblender.” Cafe-cafe jarang yang berani menjadikannya menu utama, dan peminatnya pun terbatas pada kalangan tertentu saja.

Tapi coba lihat sekarang. Buka media sosial apa pun, dan kamu akan melihat "invasi" warna hijau lembut ini di mana-mana. Tiba-tiba semua orang punya rekomendasi matcha latte paling otentik, semua orang paham perbedaan ceremonial grade, dan semua orang mendadak jadi kritikus rasa.



1. Matcha vs Kopi: Benturan Antara Hustle dan Soft Life

Matcha bukan sekadar minuman; ia adalah antitesis dari kopi.

  • Kopi identik dengan energi yang meledak-ledak, tenggat waktu, dan hustle culture. Kopi adalah bahan bakar untuk bekerja.

  • Matcha dipasarkan dengan narasi yang berbeda: ketenangan, kesadaran diri (mindfulness), dan soft life.

Media sosial sangat mencintai narasi ini. Memegang segelas matcha memberikan kesan bahwa hidupmu sedang "baik-baik saja", tenang, dan teratur. Orang memesan matcha bukan hanya untuk memuaskan dahaga, tapi untuk meminjam citra aesthetic dan artsy yang melekat padanya.

2. Paradoks "Rasa yang Dipaksakan"

Jujur saja, hampir tidak ada orang yang langsung jatuh cinta pada tegukan pertama matcha yang murni. Awalnya adalah kebingungan: “Kok pahit?” atau “Kok baunya unik banget?”

Namun, di sinilah letak keajaiban tren. Karena kita melihat orang-orang yang kita anggap "keren" menikmatinya, otak kita mulai melakukan pembenaran. Kita tetap lanjut minum, memesan variasi strawberry matcha yang manis, atau coconut matcha yang gurih, sampai akhirnya lidah kita "menyerah" dan menganggapnya enak.

Kadang, yang kita cari bukan kecocokan rasa di lidah, tapi rasa keterlibatan. Kita ingin merasa relevan dalam percakapan tentang "matcha paling creamy di Jakarta".


3. Simbol Status dalam Gelas Hijau

Matcha sekarang berfungsi sebagai simbol status sosial yang halus. Memahami perbedaan antara culinary grade dan ceremonial grade, atau tahu cafe tersembunyi yang punya whisk bambu manual, memberikan kepuasan tersendiri.

Munculnya cafe-cafe spesialis matcha yang antreannya mengular adalah bukti nyata. Kita rela membayar lebih mahal dari harga makan siang hanya untuk segelas cairan hijau. Kenapa? Karena yang kita beli adalah pengalaman kurasi. Kita membayar untuk rasa "tahu tren" dan akses ke gaya hidup yang dianggap lebih berkelas.

4. Ekonomi Estetika: Pengeluaran yang Tersembunyi

Bahaya dari tren ini bukan terletak pada harga satu gelasnya, melainkan pada ekosistem kebiasaan yang ia ciptakan. Budaya matcha sering kali sepaket dengan:

  • Cafe Hopping: Berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi konten dan perbandingan rasa.

  • Add-ons: Tambahan oat milk atau topping yang harganya bisa menambah 20-30% dari harga dasar.

  • Merchandise: Mulai dari peralatan bikin matcha di rumah sampai kaos dengan ilustrasi estetik.

Karena nominal per gelasnya terasa masih "terjangkau", kita nggak pernah merasa sedang boros. Padahal, jika dikumpulkan, biaya untuk menjaga lifestyle hijau ini bisa sangat signifikan.


Refleksi: Tes Gelas Kosong

Pola ini sebenarnya bukan barang baru. Kita pernah melihatnya pada era Kopi Susu Gula Aren, Boba, hingga Croffle. Trennya berganti, tapi perilaku kita tetap sama: Selalu ada rasa takut tertinggal dari apa yang dianggap "keren" saat ini.

Coba berikan jeda sedikit dan tanya ke diri sendiri:

"Kalau besok matcha nggak lagi viral, dan nggak ada satu pun orang yang upload story soal minuman ini, apakah gue bakal tetap rela ngantre dan bayar mahal buat segelas matcha?"

Kalau jawabannya iya, selamat, kamu memang pecinta matcha sejati. Tapi kalau mulai ragu, mungkin selama ini yang kamu minum adalah FOMO (Fear of Missing Out) yang diberi warna hijau.


Pesan Akhir

Ikut tren itu nggak salah. Menikmati sesuatu yang estetik itu manusiawi. Tapi yang paling penting adalah kesadaran. Jangan sampai kita sibuk mengejar vibe yang ditunjukkan orang lain, sampai lupa menanyakan apa yang sebenarnya benar-benar kita nikmati sendiri.

Karena di zaman sekarang, kemampuan untuk bilang "Gue nggak suka matcha, dan itu oke" adalah bentuk kemewahan yang jauh lebih mahal daripada segelas ceremonial grade mana pun.

Pertanyaannya: Apakah lidah kita yang mendadak berevolusi, atau kita cuma jatuh cinta pada identitas yang dibawa oleh segelas matcha?

————————

Kevin Imanuel

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.