Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.
Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah
Kejujuran Pahit.
Coba tarik napas dulu, terus
jujur sama diri sendiri.
Mana yang sebenarnya bikin
kamu lebih sesak: melihat saldo m-banking sisa dua digit, atau melihat
notifikasi group chat yang lagi asyik ngerencanain nongkrong... tanpa
kamu?
Kedengarannya sepele. Kita
sering sok bijak bilang, "Duitlah yang utama, gengsi nggak bikin
kenyang." Tapi realitanya? Di depan layar HP yang menyala tengah
malam, kita lebih sering gemetar ketakutan karena merasa "terbuang"
daripada merasa bangga karena sudah hemat.
Dan itu bukan kebetulan. Itu
adalah jebakan yang kita bangun pelan-pelan.
Takut
Ketinggalan: Hantu yang Lebih Nyata dari Kata "Bokek"
Mari kita bayangkan satu
skenario yang rasanya terlalu akrab di telinga kita. Sebut saja lakonnya adalah
Ardi. Tipikal anak kantor daerah Sudirman yang hidupnya terlihat
"lurus" dan stabil.
Suatu siang, dia duduk
sendirian di kantin karyawan. Sambil ngunyah, dia buka aplikasi bank. Angkanya
nggak merah, tapi udah kuning langsat—alias butuh penghematan darurat. Ardi
bergumam mantap, "Oke, bulan ini gue puasa nongkrong. Titik."
Tapi rencana itu cuma bertahan
sampai jam 7 malam.
Grup WhatsApp mendadak riuh. "Senopati
yuk!" atau "Tuku bentar, lanjut Lucy in the Sky."
Ardi diam. Dia nggak balas. Sampai akhirnya muncul satu story dari
temannya. Sebuah foto gelas dengan latar belakang lampu kota yang pudar (bokeh),
suara tawa sayup-sayup sebagai backsound, dan suasana yang seolah
bilang: "Di sini seru banget, kamu ke mana?"
Ardi natap layar itu agak
lama. Dia buka lagi m-banking-nya. Angkanya nggak berubah, tetap tipis. Tapi
perasaannya berubah. Dia merasa dunianya mengecil kalau dia nggak ada di sana.
Maka jarinya bergerak lebih
cepat dari logikanya: “Bentar, gue nyusul.”
Di detik itu, saldo bukan lagi
angka. Itu cuma "biaya administrasi" supaya dia nggak merasa
sendirian.
Kita Nggak Membeli Kopi, Kita Membeli
"Rasa Ikut"
Coba perhatikan baik-baik invoice yang kamu bayar di kasir.
Sebenarnya, kita jarang banget
cuma bayar buat rasa kafein atau sepiring pasta. Sering kali, yang kita bayar
adalah akses.
- Kita bayar % Arabica di Ashta SCBD bukan cuma
buat biji kopinya, tapi buat hak untuk duduk di antara kerumunan orang
yang terlihat "sukses".
- Kita bayar brunch di Twin House Cipete demi angle foto yang estetik buat dipajang di feed.
- Kita ke Common Grounds karena... ya, semua orang
yang "relevan" ada di sana.
Bahayanya bukan di satu
keputusan besar yang bikin bangkrut. Bahayanya ada di bisikan-bisikan kecil
yang kita ulang setiap hari:
- “Sekali ini aja, masa nggak ikut?”
- “Yaudah lah, biar tetap asyik di mata
mereka.”
- “Besok aja mulai hematnya.”
Tanpa sadar, standar hidup
kita merayap naik bukan karena pendapatan kita bertambah, tapi karena standar
lingkungan kita yang makin "tinggi". Kita terpaksa lari di atas treadmill
yang kecepatannya diatur oleh orang lain. Kalau kita berhenti sebentar, kita
merasa jatuh.
Realita di Balik Layar: Image
Itu Mahal (dan Melelahkan)
Kalau kamu lihat media sosial,
semuanya tampak rapi. Orang-orang seolah punya mesin cetak duit: nongkrong tiap
hari, liburan tiap bulan, outfit ganti terus.
Tapi gue mulai melihat pola
yang berbeda dari beberapa content creator atau teman yang dulu sangat
"lifestyle". Postingan mereka mulai jarang. Gaya hidupnya mulai
melambat. Ada yang mulai berani cerita soal burnout atau pusingnya
mengatur cicilan yang nggak habis-habis.
Ternyata, menjaga citra itu
lebih melelahkan daripada kerja lembur. Menjadi "si paling gaul" itu
mahal harganya, dan sering kali dibayar dengan kesehatan mental yang terkikis.
Apa yang Sebenarnya Kita Takuti?
Kurang saldo itu masalah
pribadi. Kamu pusing, kamu atur, selesai. Orang lain nggak perlu tahu.
Tapi kurang gaul? Itu terasa
kayak kehilangan kasta. Kayak ada yang berubah dari cara orang melihat kita.
Ada ketakutan kalau kita nggak ikut, kita bakal dilupakan.
Padahal, kenyataannya pahit:
Sebagian besar orang terlalu sibuk mikirin cicilan mereka sendiri sampai nggak
sempat nge-judge kamu. Mereka nggak sepeduli itu kalau kamu nggak datang. Itu
cuma ketakutan di kepala kita sendiri.
Kebebasan Termahal: Berani
Bilang "Gue Nggak Ikut"
Kita nggak harus jadi pertapa
yang nggak pernah keluar rumah. Tapi mungkin, ini saatnya melatih otot baru:
otot untuk menolak.
Coba sesekali ketik: "Gue
skip dulu ya, lagi mau di rumah aja." Ternyata? Langit nggak runtuh.
Teman-temanmu tetap jadi temanmu. Duniamu nggak mendadak hancur. Dan yang
paling mahal harganya: malam itu kamu tidur dengan pikiran yang tenang, tanpa
bayang-bayang tagihan yang mengejar.
Karena pada akhirnya, yang
kita cari bukan sekadar "ikut rame-rame". Kita cari rasa cukup. Dan
rasa cukup itu nggak akan pernah ketemu di cafe mana pun di SCBD kalau kita
terus-terusan mengejar bayangan orang lain.
Pertanyaannya sederhana: Kamu
lagi benar-benar menikmati hidup, atau lagi gemetar takut ketinggalan?
Sebab, kemampuan paling mewah
di tahun 2026 ini bukan punya limit kartu kredit tak terbatas, tapi
kemampuan untuk bilang:
"Gue nggak ikut, dan gue tetap oke."
————————
Kevin Imanuel
emg bener harus berani ngomong enggak, daripada nyapein mental sendiri
BalasHapusMikirin sendiri dlu emg penting, jangan ikutin kata ego
BalasHapus