Topeng Bernama Kesuksesan
Ketika pencapaian lebih sering dipamerkan daripada dirasakan
"Di era media sosial, terlihat sukses terkadang lebih penting daripada merasa sukses."
Ada sebuah pertanyaan yang belakangan ini cukup sering muncul di benak saya: sebenarnya seperti apa bentuk kesuksesan yang kita cari hari ini?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya semakin sulit ditemukan. Bukan karena kesuksesan menjadi lebih rumit, melainkan karena definisinya terus berubah mengikuti apa yang kita lihat setiap hari.
Dulu, kesuksesan sering dihubungkan dengan hal-hal yang cukup jelas. Memiliki pekerjaan yang stabil, mampu menghidupi keluarga, memiliki tempat tinggal, dan menjalani hidup yang tenang sudah dianggap sebagai pencapaian yang layak dibanggakan. Hari ini, standar tersebut terasa berbeda. Kesuksesan seolah harus terlihat. Ia harus bisa difoto, direkam, diunggah, dan mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Tanpa disadari, kita hidup dalam budaya yang tidak hanya mendorong orang untuk sukses, tetapi juga mendorong mereka untuk menunjukkan kesuksesan tersebut kepada dunia.
Akibatnya, muncul sebuah fenomena yang menarik. Banyak orang lebih sibuk membangun citra sukses dibanding membangun kehidupan yang benar-benar membuat mereka merasa berhasil.
Media sosial memainkan peran besar dalam perubahan ini. Setiap hari kita melihat berbagai pencapaian yang dibagikan oleh orang lain. Ada yang memamerkan kendaraan baru, ada yang menunjukkan pencapaian bisnisnya, ada yang membagikan perjalanan ke luar negeri, dan ada pula yang memperlihatkan gaya hidup yang terlihat sempurna.
Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan. Namun masalah muncul ketika kita mulai percaya bahwa itulah bentuk kehidupan yang seharusnya dimiliki semua orang.
Lama-kelamaan, kesuksesan tidak lagi diukur berdasarkan kepuasan pribadi, melainkan berdasarkan seberapa mengesankan kehidupan kita terlihat dari luar.
Kita mulai memilih sesuatu karena terlihat baik.
Bukan karena benar-benar baik.
Kita mulai mengejar sesuatu karena terlihat sukses.
Bukan karena benar-benar membuat kita bahagia.
Dan yang lebih berbahaya, kita mulai membandingkan kehidupan nyata kita dengan citra yang dibangun oleh orang lain.
Padahal citra dan realita sering kali adalah dua hal yang berbeda.
Banyak orang tidak menyadari bahwa media sosial pada dasarnya adalah panggung. Setiap orang bebas memilih bagian mana dari hidupnya yang ingin ditampilkan. Sama seperti sebuah etalase toko yang hanya memperlihatkan produk terbaiknya, media sosial juga cenderung menampilkan momen-momen terbaik dari kehidupan seseorang.
Yang jarang terlihat adalah kegagalan.
Yang jarang terlihat adalah rasa cemas.
Yang jarang terlihat adalah tekanan finansial.
Yang jarang terlihat adalah konflik pribadi.
Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak melihat proses di belakangnya.
Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat malam-malam tanpa tidur.
Kita melihat foto liburan, tetapi tidak melihat tagihan kartu kredit yang mungkin menyertainya.
Kita melihat kendaraan baru, tetapi tidak melihat cicilan yang harus dibayar selama bertahun-tahun.
Karena itulah membandingkan kehidupan kita dengan apa yang muncul di media sosial hampir selalu menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Namun anehnya, kita tetap melakukannya.
Bukan karena kita bodoh. Tetapi karena manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk mencari posisi dirinya di tengah kelompok sosial. Kita ingin tahu apakah kita berhasil, apakah kita cukup baik, dan apakah kita berada di jalur yang benar.
Masalahnya, ketika ukuran keberhasilan berasal dari apa yang ditampilkan orang lain, maka kita kehilangan kendali atas definisi kesuksesan kita sendiri.
Semakin keras seseorang berusaha terlihat sukses, semakin sulit terkadang ia menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Fenomena ini juga memengaruhi cara banyak orang mengelola keuangan. Tidak sedikit keputusan finansial yang sebenarnya lahir dari keinginan untuk terlihat berhasil. Seseorang membeli barang tertentu bukan karena fungsinya, tetapi karena simbol yang melekat pada barang tersebut. Mereka memilih gaya hidup tertentu bukan karena sesuai dengan kebutuhan, tetapi karena ingin membangun persepsi tertentu di mata orang lain.
Dalam behavioral finance, perilaku seperti ini dikenal sebagai status consumption, yaitu kecenderungan mengonsumsi sesuatu untuk menunjukkan status sosial. Yang dicari bukan sekadar manfaat produknya, tetapi makna sosial yang melekat padanya.
Inilah alasan mengapa dua orang bisa membeli barang yang sama dengan motivasi yang sangat berbeda. Yang satu membeli karena memang membutuhkan, sementara yang lain membeli karena ingin terlihat lebih berhasil.
Masalahnya, citra selalu membutuhkan biaya untuk dipertahankan.
Semakin tinggi standar yang ingin ditampilkan, semakin besar pula sumber daya yang harus dikeluarkan untuk menjaganya.
Di sinilah banyak orang mulai terjebak.
Mereka bekerja lebih keras untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya tidak mereka nikmati. Mereka terus mengejar simbol-simbol kesuksesan, tetapi semakin jauh dari rasa puas yang sesungguhnya.
Ironisnya, beberapa orang yang terlihat paling sukses dari luar justru menyimpan tekanan terbesar di dalam dirinya. Mereka takut kehilangan citra yang telah dibangun. Takut dianggap gagal. Takut terlihat mengalami kemunduran. Takut tidak lagi sesuai dengan ekspektasi yang telah diciptakan.
Akibatnya, hidup berubah menjadi pertunjukan yang tidak pernah selesai.
Padahal kesuksesan sejati seharusnya memberikan kebebasan, bukan tekanan tambahan.
Jika dipikirkan lebih dalam, sebagian besar orang tidak benar-benar iri terhadap kekayaan orang lain. Yang mereka inginkan adalah perasaan yang mereka kira dimiliki oleh orang tersebut. Mereka membayangkan bahwa uang, jabatan, atau popularitas akan membawa ketenangan, rasa aman, dan kebahagiaan.
Padahal tidak ada jaminan bahwa semua itu akan terjadi.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan menjadi jauh lebih kompleks. Faktor seperti hubungan sosial, kesehatan mental, rasa memiliki tujuan hidup, dan kualitas hubungan interpersonal sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar terhadap kepuasan hidup seseorang.
Namun hal-hal tersebut sulit dipamerkan.
Mereka tidak selalu terlihat menarik di media sosial.
Mereka tidak selalu menghasilkan banyak likes atau komentar.
Karena itu, perhatian kita sering tertuju pada simbol-simbol yang terlihat, sementara melupakan hal-hal yang sebenarnya lebih penting.
Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak orang merasa lelah. Mereka terus mengejar standar yang bukan miliknya sendiri. Mereka terus berusaha memenuhi ekspektasi yang bahkan tidak pernah mereka buat.
Padahal bisa jadi definisi sukses yang paling mereka butuhkan jauh lebih sederhana.
Mungkin sukses bagi seseorang adalah memiliki waktu bersama keluarga.
Mungkin sukses bagi orang lain adalah memiliki pekerjaan yang memberikan ketenangan.
Mungkin sukses adalah hidup tanpa utang yang membebani pikiran.
Mungkin sukses adalah bangun pagi tanpa rasa takut menghadapi hari.
Tidak semua bentuk kesuksesan terlihat mewah.
Tidak semua bentuk kesuksesan bisa dipamerkan.
Dan mungkin justru karena itulah kesuksesan yang paling berharga sering kali tidak terlihat.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah seberapa sukses kita terlihat di mata orang lain.
Melainkan seberapa damai kita ketika tidak ada siapa pun yang sedang melihat.
Karena jika seluruh pencapaian, jabatan, harta, dan pengakuan sosial diambil dari hidup kita, lalu yang tersisa hanyalah diri kita sendiri, apakah kita masih merasa berhasil?
Ataukah selama ini kita hanya sibuk merawat sebuah topeng yang bernama kesuksesan?
Referensi
Veblen, T. (1899). The Theory of the Leisure Class.
Frank, R. H. (1999). Luxury Fever
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life
Twenge, J. M. (2017). iGen
Stevhen Tjiontara
Menulis tentang uang, perilaku manusia, dan realita kehidupan modern.
mantap
BalasHapusRelate parah sih
BalasHapus