Surat untuk Diriku yang Dulu Selalu Bilang "Nanti Aja"
Hai, diriku yang dulu.
Aku tahu kamu sering berkata, "Nanti aja."
Nanti mulai menabung. Nanti belajar hal baru. Nanti olahraga. Nanti memperbaiki kebiasaan yang buruk. Nanti membereskan hidup yang terasa berantakan.
Aku mengerti kenapa kamu sering mengucapkan kata itu. Waktu itu semuanya terasa masih jauh. Masa depan terlihat seperti sesuatu yang tidak perlu dipikirkan sekarang.
Kamu merasa masih punya banyak waktu.
Masalahnya, waktu ternyata bergerak lebih cepat daripada yang kita kira.
Tanpa sadar, minggu berubah menjadi bulan. Bulan berubah menjadi tahun. Dan banyak hal yang dulu ingin dilakukan masih tetap berada di daftar yang sama.
Aku masih ingat bagaimana kita sering menunda menabung karena merasa penghasilan belum cukup besar. Kita menunda belajar karena merasa sedang terlalu sibuk. Kita menunda memulai sesuatu karena takut hasilnya tidak sempurna.
Padahal yang sebenarnya terjadi bukan karena kita kekurangan waktu. Kita hanya terlalu nyaman menunggu momen yang dianggap tepat.
Sekarang aku menyadari bahwa momen yang sempurna hampir tidak pernah datang.
Sebagian besar pencapaian dalam hidup justru dimulai dari langkah kecil yang terasa biasa saja. Menabung seratus ribu rupiah pertama. Membaca lima halaman pertama. Berolahraga sepuluh menit pertama.
Semua terlihat sepele saat dilakukan. Tetapi dampaknya luar biasa ketika dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Kalau aku bisa mengirim satu pesan untukmu, pesannya sederhana.
Jangan terlalu sering mengatakan "nanti".
Karena masa depan yang kamu impikan sebenarnya sedang dibangun oleh keputusan-keputusan kecil yang kamu ambil hari ini.
Tidak perlu menunggu siap sepenuhnya.
Mulailah sedikit lebih cepat. Mulailah meskipun belum sempurna. Mulailah meskipun masih takut.
Percayalah, dirimu di masa depan akan berterima kasih untuk itu.
Komentar
Posting Komentar