Mahalnya Menjadi Normal

 

Tentang standar hidup yang terus naik tanpa pernah kita sadari

"Yang membuat hidup terasa semakin mahal bukan selalu karena harga yang naik, tetapi karena standar yang kita anggap normal ikut naik bersamanya."

Ada satu hal yang menarik ketika kita melihat kembali kehidupan beberapa tahun lalu. Dulu, pergi ke kafe mungkin menjadi aktivitas sesekali. Membeli kopi dengan harga puluhan ribu rupiah terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri. Memiliki ponsel baru setiap beberapa tahun sekali dianggap wajar. Liburan ke luar kota menjadi sesuatu yang direncanakan jauh-jauh hari.

Namun hari ini, banyak hal yang dulu dianggap mewah perlahan berubah menjadi sesuatu yang biasa.

Bukan karena harganya turun. Justru sebagian besar menjadi lebih mahal. Yang berubah adalah cara kita memandangnya.

Kita mulai menganggap hal-hal tertentu sebagai bagian dari kehidupan normal. Nongkrong setiap minggu. Berlangganan berbagai platform digital. Mengikuti tren gadget terbaru. Membeli pakaian untuk mengikuti musim atau tren tertentu. Liburan sebagai kebutuhan tahunan. Semua itu perlahan masuk ke dalam daftar hal yang dianggap lumrah.

Dan ketika sesuatu sudah dianggap normal, kita jarang mempertanyakannya lagi.

Kita tidak lagi bertanya apakah benar-benar membutuhkan hal tersebut. Kita hanya menganggap bahwa begitulah cara hidup seharusnya dijalani.

Fenomena ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Karena sering kali bukan kebutuhan yang bertambah, melainkan standar hidup yang terus bergerak naik tanpa kita sadari.


Jika dipikirkan lebih dalam, standar hidup tidak pernah terbentuk sendirinya. Ia dibangun oleh lingkungan, pengalaman, dan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Ketika kita masih kecil, kebahagiaan mungkin datang dari hal-hal yang sangat sederhana. Bermain bersama teman, makan bersama keluarga, atau mendapatkan barang yang sudah lama diinginkan. Namun seiring bertambahnya usia, definisi tentang apa yang dianggap cukup mulai berubah.

Kita mulai melihat bagaimana orang lain hidup.

Kita melihat bagaimana teman-teman menghabiskan akhir pekannya.

Kita melihat bagaimana rekan kerja berpakaian.

Kita melihat tempat-tempat yang sedang populer.

Kita melihat gaya hidup yang dianggap ideal.

Lama-kelamaan, semua itu membentuk ekspektasi baru.

Yang awalnya hanya pilihan berubah menjadi standar.

Yang awalnya hanya keinginan berubah menjadi kebutuhan.

Dan yang awalnya terasa istimewa berubah menjadi hal yang dianggap biasa.


Salah satu contoh paling sederhana bisa ditemukan dalam kebiasaan sehari-hari. Banyak orang tidak merasa dirinya menjalani gaya hidup yang mahal. Mereka merasa hanya melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Padahal jika dijumlahkan, pengeluaran-pengeluaran kecil yang dianggap normal tersebut sering kali membentuk beban finansial yang cukup besar.

Secangkir kopi mungkin tidak terasa mahal.

Langganan aplikasi mungkin tidak terasa mahal.

Makan di luar beberapa kali seminggu mungkin tidak terasa mahal.

Belanja kecil setiap bulan mungkin tidak terasa mahal.

Namun ketika semuanya digabungkan, jumlahnya sering kali jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.

Yang membuat situasi ini sulit disadari adalah karena pengeluaran tersebut tidak terasa seperti kemewahan. Mereka terasa seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.

Padahal tidak semua hal yang terasa normal benar-benar diperlukan.


Di era digital, proses ini terjadi lebih cepat dibanding sebelumnya.

Media sosial tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita mendefinisikan kehidupan yang baik.

Setiap hari kita melihat potongan kehidupan orang lain yang tampak menarik. Ada yang sedang berlibur. Ada yang membeli kendaraan baru. Ada yang pindah ke apartemen baru. Ada yang mencoba restoran terbaru. Ada yang membagikan pencapaian kariernya.

Tanpa sadar, semua itu menjadi referensi baru bagi otak kita.

Semakin sering melihat sesuatu, semakin normal hal tersebut terasa.

Inilah mengapa seseorang yang sebelumnya merasa cukup dengan kehidupannya bisa tiba-tiba merasa tertinggal setelah beberapa menit membuka media sosial.

Bukan karena kehidupannya berubah.

Tetapi karena standar pembandingnya berubah.


Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation atau inflasi gaya hidup. Ketika pendapatan meningkat, pengeluaran juga meningkat. Secara teori hal ini memang terlihat masuk akal. Namun yang sering tidak disadari adalah bahwa peningkatan pengeluaran sering kali terjadi lebih cepat daripada peningkatan rasa puas.

Seseorang mendapatkan kenaikan gaji.

Lalu ia pindah ke tempat tinggal yang lebih mahal.

Mengganti kendaraan.

Mengubah pola konsumsi.

Meningkatkan standar hiburan.

Menambah berbagai pengeluaran baru.

Beberapa bulan kemudian, kondisi finansialnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Pendapatannya naik, tetapi rasa cukupnya tidak ikut naik.

Karena setiap kali standar hidup meningkat, standar tersebut segera terasa normal.

Dan ketika sudah terasa normal, kita mulai menginginkan sesuatu yang lebih tinggi lagi.


Yang menarik, fenomena ini tidak hanya terjadi pada orang dengan pendapatan tinggi.

Mahasiswa, pekerja muda, bahkan mereka yang baru memulai karier pun bisa mengalaminya.

Alasannya sederhana.

Lifestyle inflation bukan soal jumlah uang.

Ia lebih berkaitan dengan cara berpikir.

Seseorang bisa memiliki penghasilan yang sangat besar tetapi tetap merasa kurang. Sebaliknya, seseorang dengan penghasilan yang lebih sederhana bisa merasa cukup karena memiliki ekspektasi yang lebih realistis.

Di sinilah letak paradoks kehidupan modern.

Banyak orang bekerja keras untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun ketika kualitas hidup meningkat, ekspektasi juga meningkat. Akibatnya, rasa puas tetap sulit ditemukan.

Seolah-olah kita sedang menaiki tangga yang tidak pernah berakhir.

Semakin tinggi kita naik, semakin tinggi pula anak tangga berikutnya.


Hal lain yang jarang dibahas adalah bagaimana standar hidup yang meningkat sering kali menciptakan tekanan sosial baru.

Ketika seseorang terbiasa dengan gaya hidup tertentu, ia merasa perlu mempertahankannya.

Bukan karena masih membutuhkannya, tetapi karena takut dianggap mengalami penurunan.

Inilah alasan mengapa banyak orang tetap memaksakan pengeluaran tertentu meskipun kondisi keuangannya sedang tidak baik.

Mereka tidak takut kehilangan barangnya.

Mereka takut kehilangan citra yang melekat pada barang tersebut.

Mereka tidak takut hidup lebih sederhana.

Mereka takut terlihat hidup lebih sederhana.

Perbedaan ini sangat penting.

Karena sering kali keputusan finansial yang buruk bukan lahir dari kebutuhan, melainkan dari ketakutan sosial.


Jika dilihat dari perspektif behavioral finance, manusia tidak selalu mengambil keputusan secara rasional. Kita sering kali dipengaruhi oleh emosi, kebiasaan, dan lingkungan.

Ketika semua orang di sekitar kita melakukan sesuatu, kita cenderung menganggap hal tersebut benar.

Ketika semua orang terlihat memiliki standar hidup tertentu, kita merasa perlu menyesuaikan diri.

Padahal kondisi setiap orang berbeda.

Pendapatan berbeda.

Tanggung jawab berbeda.

Tujuan hidup berbeda.

Tetapi media sosial dan lingkungan sosial sering kali membuat semua orang terlihat berada dalam perlombaan yang sama.

Padahal kenyataannya tidak demikian.


Mungkin salah satu keterampilan yang paling berharga di masa sekarang bukanlah kemampuan menghasilkan uang lebih banyak.

Melainkan kemampuan menentukan kapan harus merasa cukup.

Karena tanpa kemampuan tersebut, tidak akan ada jumlah uang yang benar-benar terasa cukup.

Setiap peningkatan pendapatan hanya akan diikuti oleh peningkatan standar hidup.

Dan siklus itu akan terus berulang.

Banyak orang mengira bahwa mereka akan merasa tenang ketika mencapai angka tertentu dalam rekening mereka.

Namun kenyataannya, ketenangan jarang datang dari angka semata.

Ketenangan lebih sering datang dari kemampuan mengendalikan keinginan.

Dari kemampuan membedakan antara apa yang benar-benar penting dan apa yang hanya terlihat penting.

Dari kemampuan mengatakan bahwa sesuatu memang menarik, tetapi tidak harus dimiliki.


Mungkin inilah alasan mengapa sebagian orang yang hidup sederhana terlihat lebih tenang dibanding mereka yang memiliki lebih banyak.

Bukan karena mereka tidak memiliki ambisi.

Bukan karena mereka tidak ingin berkembang.

Tetapi karena mereka tidak membiarkan standar hidup orang lain menentukan standar hidup mereka sendiri.

Mereka memahami bahwa kehidupan bukanlah kompetisi konsumsi.

Bukan perlombaan siapa yang memiliki lebih banyak.

Bukan perlombaan siapa yang terlihat lebih sukses.

Melainkan perjalanan untuk membangun kehidupan yang sesuai dengan nilai dan tujuan masing-masing.


Pada akhirnya, hidup memang akan terus berubah. Teknologi akan berkembang. Tren akan berganti. Standar sosial akan terus bergerak. Selalu ada hal baru yang terlihat lebih menarik daripada apa yang kita miliki hari ini.

Namun jika kita terus menjadikan dunia luar sebagai ukuran utama, kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa kurang.

Karena standar tersebut tidak pernah berhenti bergerak.

Hari ini cukup tidak lagi cukup.

Besok standar baru muncul lagi.

Lalu muncul lagi.

Dan lagi.

Sampai akhirnya kita lupa bahwa sebagian besar tekanan tersebut sebenarnya tidak pernah kita pilih sendiri.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita tanyakan bukanlah berapa banyak yang harus kita miliki agar merasa cukup.

Melainkan:

apakah kehidupan yang sedang kita bangun benar-benar berdasarkan kebutuhan dan nilai yang kita yakini, atau hanya berdasarkan standar yang perlahan kita anggap normal karena terlalu sering melihatnya?


Referensi

Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic Relativism and Planning the Good Society.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow

Duesenberry, J. S. (1949). Income, Saving and the Theory of Consumer Behavior.

Frank, R. H. (1999). Luxury Fever

Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2014). The Economic Importance of Financial Literacy.


Stevhen Tjiontara

Menulis tentang uang, perilaku manusia, dan realita kehidupan modern.


 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Antara Terlihat Cukup dan Benar-Benar Cukup