Beli Barang Biar Kelihatan Hedon, Padahal Dipakai Juga Nggak: Saat Gaya Hidup Jadi Ajang Pembuktian
Dan anehnya… makin sering lihat, makin muncul perasaan:
"Kayaknya kalau punya itu hidup saya bakal lebih keren deh."
Padahal sebelumnya kita baik-baik aja.
Nggak kepikiran beli.
Nggak merasa kurang.
Tapi setelah lihat orang lain punya, tiba-tiba barang yang tadinya bukan kebutuhan berubah jadi keinginan yang terasa mendesak.
Akhirnya mulai muncul kebiasaan yang sekarang cukup sering terjadi: beli barang bukan karena perlu, tapi karena ingin terlihat punya.
Beli barang supaya foto kamar lebih estetik.
Beli barang supaya terlihat sukses.
Beli barang supaya kalau upload story orang bilang, “wah keren.”
Dan yang paling lucu, kadang setelah barangnya datang… semangatnya malah cepat hilang.
Hari pertama senang.
Hari kedua masih dipakai.
Seminggu kemudian mulai biasa.
Sebulan kemudian barangnya cuma jadi pajangan.
Tapi uangnya sudah keluar.
Kadang ada barang yang bahkan dibeli cuma buat dipakai satu kali foto.
Ada yang beli tas mahal padahal isi dompet biasa.
Ada yang beli sepatu banyak tapi sehari-hari tetap pakai yang itu-itu aja.
Ada yang beli dekorasi kamar supaya estetik di kamera, padahal sehari-hari nggak terlalu kepakai.
Ada juga yang beli barang mengikuti tren, bukan karena cocok atau memang dibutuhkan.
Dan semakin dipikir, sebenarnya yang dicari bukan barangnya.
Yang dicari adalah perasaan.
Perasaan dianggap keren.
Perasaan diterima.
Perasaan terlihat berhasil.
Perasaan nggak ketinggalan.
Padahal masalahnya, rasa itu biasanya nggak bertahan lama.
Karena setelah satu barang terbeli, media sosial selalu kasih standar baru.
Sudah beli yang ini → muncul yang lebih bagus.
Sudah ikut tren → muncul tren baru.
Sudah upload → besok orang lain upload yang lebih mewah.
Kalau terus dikejar, capeknya nggak selesai.
Saya juga mulai sadar satu hal.
Barang mahal belum tentu bikin hidup lebih nyaman.
Barang banyak belum tentu bikin hidup lebih bahagia.
Dan barang yang terlihat keren di kamera belum tentu berguna di kehidupan nyata.
Kadang kita terlalu sibuk membeli untuk terlihat “punya hidup”, sampai lupa menikmati hidup itu sendiri.
Yang menarik, orang yang benar-benar tenang secara finansial sering kali justru nggak terlalu sibuk menunjukkan apa yang mereka beli.
Mereka beli karena memang dibutuhkan.
Mereka pakai sampai maksimal.
Karena mereka tahu satu hal sederhana:
barang itu alat untuk membantu hidup, bukan alat untuk membuktikan nilai diri.
Makin ke sini saya mulai belajar sebelum beli sesuatu, saya kasih jeda dulu.
Bukan langsung checkout.
Biasanya saya tanya tiga pertanyaan sederhana:
Dan jujur… pertanyaan terakhir sering bikin saya batal beli.
Karena ternyata banyak barang yang saya inginkan bukan untuk dipakai, tapi untuk dilihat orang lain.
Sekarang saya mulai lebih senang beli barang yang benar-benar dipakai setiap hari.
Mungkin nggak terlalu mewah.
Mungkin nggak terlalu estetik.
Mungkin nggak bikin orang bilang “wah”.
Tapi rasanya jauh lebih tenang.
Karena ternyata yang paling mahal bukan harga barang.
Tapi rasa tenang waktu tahu uang yang keluar memang dipakai buat sesuatu yang berguna.
Pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling banyak punya.
Tapi siapa yang paling tahu apa yang sebenarnya dia butuhkan.
Karena tampil hedon beberapa menit di media sosial itu cepat lewat.
Kalau kamu sendiri gimana?
Pernah nggak beli sesuatu yang waktu itu terasa wajib banget dibeli… tapi sekarang malah nggak tahu barangnya ada di mana?
Atau kamu termasuk orang yang sekarang mulai pilih beli sesuai kebutuhan dibanding ikut tren?
Ghani Elang Pratama

Komentar
Posting Komentar