Bahagia yang Bisa Dicicil
Ketika kebahagiaan mulai diukur dari kemampuan untuk membeli sesuatu
"Dulu orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Hari ini, banyak orang bekerja untuk mempertahankan gaya hidup yang bahkan tidak pernah mereka butuhkan sejak awal."
Beberapa tahun lalu, saya pernah mendengar seseorang berkata, "Nanti kalau sudah gajian, gue mau beli ini. Biar ada yang ditunggu."
Kalimat itu terdengar biasa. Bahkan mungkin terdengar sangat normal bagi banyak orang. Saya sendiri waktu itu tidak terlalu memikirkannya. Sampai akhirnya saya sadar bahwa kalimat tersebut sebenarnya menggambarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar keinginan membeli barang.
Ada sebuah pola yang perlahan muncul dalam kehidupan modern. Kita tidak lagi hanya membeli barang karena membutuhkannya. Kita membeli karena berharap ada perasaan tertentu yang datang bersamaan dengan barang tersebut. Kita membeli pengalaman, status, pengakuan, bahkan harapan.
Dan yang paling menarik, kita sering menyebutnya sebagai kebahagiaan.
Hari ini, kebahagiaan tidak lagi selalu berbentuk hubungan yang baik, kesehatan yang terjaga, atau ketenangan pikiran. Dalam banyak kasus, kebahagiaan mulai dikaitkan dengan kemampuan untuk membeli sesuatu.
Mampu membeli ponsel baru terasa membahagiakan.
Mampu liburan terasa membahagiakan.
Mampu makan di tempat yang sedang tren terasa membahagiakan.
Semuanya tidak salah. Namun yang menarik adalah bagaimana perlahan-lahan kita mulai mengukur kebahagiaan melalui transaksi.
Seolah-olah semakin banyak yang bisa kita beli, semakin bahagia kita.
Pertanyaannya, benarkah demikian?
Ketika Belanja Tidak Lagi Tentang Barang
Ada alasan mengapa banyak orang merasa senang saat membeli sesuatu.
Dalam ilmu perilaku, aktivitas membeli memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berkaitan dengan antisipasi kesenangan. Menariknya, dopamin sering kali muncul bukan ketika kita memiliki barang tersebut, tetapi justru saat proses menunggu dan membelinya.
Inilah sebabnya mengapa terkadang rasa senang saat checkout lebih besar daripada rasa senang setelah barangnya datang.
Coba perhatikan.
Pernahkah kamu menunggu sebuah paket dengan penuh antusiasme, lalu setelah paket itu tiba, rasa senang tersebut perlahan menghilang dalam beberapa hari?
Bukan karena barangnya buruk.
Tapi karena yang sebenarnya kita cari adalah sensasi emosionalnya.
Perasaan bahwa ada sesuatu yang baru.
Perasaan bahwa hidup menjadi sedikit lebih menarik.
Perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yang bisa membuat hari terasa lebih baik.
Dan karena perasaan itu tidak bertahan lama, kita mulai mencarinya lagi.
Lalu lagi, Dan lagi.
Kebahagiaan yang Umurnya Sangat Pendek
Salah satu fenomena yang banyak dibahas dalam psikologi adalah hedonic adaptation.
Sederhananya, manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk terbiasa terhadap hal-hal baik.
Barang yang hari ini membuat kita sangat bahagia, dalam beberapa minggu bisa menjadi sesuatu yang biasa saja.
Mobil baru.
Laptop baru.
Jam tangan baru.
Bahkan pekerjaan baru.
Semua memiliki pola yang sama.
Awalnya memberikan lonjakan kebahagiaan.
Lalu perlahan menjadi normal.
Dan ketika sesuatu sudah menjadi normal, kita mulai mencari hal berikutnya.
Inilah alasan mengapa banyak orang merasa harus terus meningkatkan standar hidupnya.
Bukan karena kebutuhan bertambah.
Tetapi karena rasa puas semakin sulit dipertahankan.
Media Sosial dan Industri Kebahagiaan
Kalau dipikir-pikir, kita hidup di zaman yang unik.
Setiap hari kita melihat ratusan kehidupan orang lain.
Liburan mereka.
Barang mereka.
Pencapaian mereka.
Momen terbaik mereka.
Tidak heran jika standar kebahagiaan kita ikut berubah.
Dulu seseorang mungkin merasa cukup karena bisa berkumpul bersama keluarga.
Sekarang, tanpa sadar muncul pertanyaan:
"Kenapa hidup gue tidak seseru mereka?"
Padahal kita sedang membandingkan kehidupan lengkap kita dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Dan perbandingan seperti itu tidak akan pernah adil.
Masalahnya, algoritma media sosial tidak dirancang untuk membuat kita puas.
Justru sebaliknya.
Ia dirancang untuk membuat kita terus melihat.
Terus menginginkan.
Terus merasa ada sesuatu yang kurang.
Karena selama kita merasa kurang, kita akan terus mencari.
Dan selama kita terus mencari, roda konsumsi akan terus berputar.
Paylater: Ketika Kebahagiaan Bisa Dicicil
Mungkin tidak ada simbol yang lebih menggambarkan zaman sekarang selain paylater.
Konsepnya sederhana.
Nikmati sekarang.
Bayar nanti.
Secara praktis, memang sangat membantu dalam kondisi tertentu.
Namun secara psikologis, ada sesuatu yang menarik.
Paylater menghilangkan rasa sakit saat mengeluarkan uang.
Ketika seseorang membayar tunai, ia langsung merasakan pengurangan sumber daya yang dimiliki.
Tetapi ketika pembayaran ditunda, rasa kehilangan itu ikut tertunda.
Akibatnya, keputusan membeli menjadi jauh lebih mudah.
Dan ketika keputusan membeli menjadi lebih mudah, konsumsi cenderung meningkat.
Tidak heran jika banyak orang akhirnya memiliki tagihan yang sebenarnya berasal dari keinginan sesaat yang sudah lama hilang.
Barangnya mungkin masih ada.
Tapi rasa bahagianya sudah pergi.
Tagihannya yang masih bertahan.
Apakah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?
Pertanyaan ini sudah lama menjadi perdebatan.
Jawaban paling jujur mungkin adalah:
Ya, sampai batas tertentu.
Uang bisa membeli kenyamanan.
Uang bisa membeli keamanan.
Uang bisa mengurangi banyak sumber stres.
Namun setelah kebutuhan dasar terpenuhi, hubungan antara uang dan kebahagiaan menjadi jauh lebih kompleks.
Karena manusia tidak hanya membutuhkan barang.
Manusia membutuhkan makna.
Hubungan.
Tujuan.
Rasa memiliki.
Dan hal-hal tersebut tidak selalu bisa dibeli.
Refleksi: Kita Sedang Mencari Apa?
Mungkin masalahnya bukan pada barang.
Bukan pada belanja.
Bukan pada uang.
Mungkin masalahnya adalah kita sering meminta uang melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan tugasnya.
Kita meminta uang untuk menghilangkan kesepian.
Menghilangkan rasa tidak percaya diri.
Menghilangkan rasa tertinggal.
Menghilangkan kekhawatiran.
Padahal uang tidak dirancang untuk melakukan semua itu.
Dan ketika harapan kita terlalu besar, kita akan terus kecewa.
Karena tidak ada barang yang mampu memperbaiki sesuatu yang berasal dari dalam diri.
Penutup
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja keras.
Tidak ada yang salah dengan membeli sesuatu yang membuat kita senang.
Namun mungkin sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
Apakah yang sedang kita beli benar-benar sebuah kebutuhan?
Ataukah kita sedang membeli harapan bahwa hidup akan terasa lebih baik setelahnya?
Karena bisa jadi, yang sebenarnya kita cari bukan barang baru.
Melainkan perasaan yang selama ini tidak pernah berhasil kita temukan di dalam keranjang belanja.
Stevhen Tjiontara
Menulis tentang uang, perilaku manusia, dan realita kehidupan modern.
keren
BalasHapusmantapp ka
BalasHapusRelate parah sih
BalasHapus