Scroll, Bandingkan, Mengeluh, Ulangi
Siklus yang perlahan mengubah cara kita memandang hidup
"Dulu kita membandingkan diri dengan tetangga. Hari ini kita membandingkan diri dengan seluruh dunia."
Ada kebiasaan yang mungkin dilakukan hampir semua orang hari ini. Bangun tidur, mengambil ponsel, lalu mulai menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Lima menit berubah menjadi lima belas menit. Lima belas menit berubah menjadi setengah jam. Tanpa sadar, hari bahkan belum benar-benar dimulai tetapi pikiran kita sudah dipenuhi kehidupan orang lain.
Kita melihat teman lama yang baru saja menikah. Melihat seseorang yang sedang menikmati liburan di Eropa. Melihat pengusaha muda yang memamerkan pencapaian bisnisnya. Melihat seseorang yang tubuhnya terlihat sempurna setelah berbulan-bulan berolahraga. Melihat orang lain membeli rumah, kendaraan baru, atau merayakan pencapaian yang mungkin selama ini kita impikan.
Pada titik tertentu, aktivitas tersebut terasa biasa saja. Bahkan menghibur. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang sering terjadi setelahnya. Kita mulai membandingkan.
Mungkin tidak secara sadar.
Mungkin hanya sekilas.
Tetapi perbandingan itu muncul.
"Usianya sama dengan saya."
"Kok dia sudah sampai di sana?"
"Kenapa hidup saya tidak seperti itu?"
"Kenapa saya masih begini-begini saja?"
Dan dari situlah siklus yang tidak terlihat mulai bekerja.
Scroll.
Bandingkan.
Mengeluh.
Ulangi.
Awalnya media sosial hadir untuk membantu manusia terhubung. Kita bisa mengetahui kabar teman lama, berbagi pengalaman, atau menemukan informasi yang sebelumnya sulit diakses. Namun seiring waktu, platform-platform tersebut berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka bukan hanya tempat berinteraksi, tetapi juga tempat membangun identitas.
Hari ini, hampir semua orang memiliki versi digital dari dirinya sendiri. Sebuah ruang tempat mereka memilih apa yang ingin diperlihatkan dan apa yang ingin disembunyikan.
Yang menarik, sebagian besar orang tentu ingin menunjukkan sisi terbaik mereka.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Masalah muncul ketika kita lupa bahwa yang sedang kita lihat hanyalah potongan cerita.
Bukan keseluruhan kehidupan.
Sama seperti sebuah trailer film yang hanya menampilkan adegan terbaik, media sosial juga sering kali hanya memperlihatkan momen-momen yang paling menarik.
Kita melihat hasilnya.
Tetapi tidak melihat prosesnya.
Kita melihat pencapaiannya.
Tetapi tidak melihat kegagalannya.
Kita melihat kebahagiaannya.
Tetapi tidak melihat kecemasannya.
Akibatnya, kita mulai membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh masalah dengan kehidupan digital orang lain yang telah dipilih secara selektif.
Perbandingan seperti itu hampir tidak mungkin menghasilkan kepuasan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia secara alami melakukan social comparison atau perbandingan sosial. Kita menggunakan orang lain sebagai titik referensi untuk memahami posisi diri kita sendiri.
Dalam jumlah yang wajar, hal ini sebenarnya normal.
Masalahnya, otak manusia tidak pernah dirancang untuk membandingkan dirinya dengan ribuan orang setiap hari.
Pada masa lalu, seseorang mungkin hanya membandingkan dirinya dengan lingkungan sekitar.
Hari ini, kita membandingkan diri dengan selebriti, influencer, pengusaha sukses, atlet profesional, dan berbagai individu yang kehidupannya sama sekali berbeda dengan kita.
Perbandingan yang terus-menerus ini menciptakan ilusi bahwa semua orang sedang bergerak lebih cepat.
Semua orang terlihat lebih sukses.
Semua orang terlihat lebih bahagia.
Dan secara perlahan, kita mulai merasa tertinggal.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Sering kali yang terjadi hanyalah kita terlalu sering melihat pencapaian orang lain dan terlalu jarang menyadari pencapaian diri sendiri.
Semakin banyak kehidupan yang kita lihat setiap hari, semakin mudah kita merasa hidup kita kurang berarti.
Yang membuat fenomena ini semakin rumit adalah algoritma.
Banyak orang mengira mereka memilih sendiri apa yang mereka lihat di media sosial. Padahal dalam banyak kasus, algoritma yang memilihkannya.
Konten yang memicu emosi cenderung mendapatkan perhatian lebih besar.
Konten yang membuat orang kagum lebih mudah menyebar.
Konten yang menampilkan kemewahan, pencapaian, atau gaya hidup tertentu biasanya menghasilkan interaksi yang lebih tinggi.
Akibatnya, kita terus terpapar pada versi kehidupan yang luar biasa.
Lama-kelamaan, kehidupan yang biasa terasa tidak cukup menarik.
Padahal sebagian besar kehidupan manusia memang biasa.
Sebagian besar hari kita tidak diisi oleh pencapaian besar.
Tidak ada promosi jabatan setiap minggu.
Tidak ada liburan setiap bulan.
Tidak ada kemenangan besar setiap hari.
Sebagian besar hidup diisi oleh rutinitas sederhana yang justru menjadi fondasi dari segala pencapaian.
Namun ketika kita terlalu sering melihat kehidupan yang tampak spektakuler, rutinitas tersebut mulai terasa membosankan.
Kita mulai merasa bahwa sesuatu sedang salah.
Padahal yang berubah bukan kehidupan kita.
Yang berubah adalah ekspektasi kita.
Ada alasan mengapa banyak orang merasa lelah meskipun mereka tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.
Kelelahan modern sering kali bukan berasal dari tubuh.
Tetapi dari pikiran.
Setiap hari kita menerima informasi dalam jumlah yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Kita melihat peluang yang tidak kita ambil.
Pencapaian yang belum kita raih.
Barang yang belum kita miliki.
Tempat yang belum kita kunjungi.
Semua itu menciptakan perasaan bahwa kita selalu kurang.
Selalu ada sesuatu yang belum dicapai.
Selalu ada orang yang lebih unggul.
Selalu ada target baru yang harus dikejar.
Dalam kondisi seperti itu, rasa syukur menjadi semakin sulit dipertahankan.
Bukan karena kita tidak memiliki banyak hal untuk disyukuri.
Tetapi karena perhatian kita terus diarahkan pada apa yang belum kita miliki.
Fenomena ini juga memengaruhi cara kita mengambil keputusan finansial.
Banyak pembelian yang sebenarnya tidak lahir dari kebutuhan.
Melainkan dari perbandingan.
Kita membeli sesuatu karena melihat orang lain memilikinya.
Kita pergi ke suatu tempat karena semua orang membicarakannya.
Kita mengikuti tren tertentu karena takut tertinggal.
Dalam behavioral finance, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan fear of missing out atau FOMO.
Ketakutan bahwa kita sedang kehilangan sesuatu yang penting.
Ketakutan bahwa orang lain sedang menikmati pengalaman yang tidak kita miliki.
Ketakutan bahwa kita tertinggal dari lingkungan sekitar.
Masalahnya, FOMO hampir tidak pernah memiliki garis akhir.
Karena selalu ada sesuatu yang baru.
Selalu ada tren baru.
Selalu ada pengalaman baru.
Dan selalu ada seseorang yang tampak lebih unggul.
Jika hidup terus dijalani berdasarkan rasa takut tertinggal, maka kita akan terus berlari tanpa pernah benar-benar tahu ke mana tujuan kita.
Mungkin salah satu hal yang paling berharga di era digital adalah kemampuan untuk berhenti membandingkan.
Bukan berarti kita harus mengabaikan pencapaian orang lain.
Bukan berarti kita tidak boleh terinspirasi.
Tetapi ada perbedaan besar antara inspirasi dan perbandingan.
Inspirasi membuat kita berkembang.
Perbandingan membuat kita merasa kurang.
Inspirasi memberi arah.
Perbandingan mencuri ketenangan.
Inspirasi membantu kita fokus pada perjalanan sendiri.
Perbandingan membuat kita sibuk mengawasi perjalanan orang lain.
Dan semakin lama kita menghabiskan waktu melihat ke jalur orang lain, semakin mudah kita kehilangan arah di jalur kita sendiri.
Pada akhirnya, masalah terbesar dari siklus scroll, bandingkan, mengeluh, ulangi bukanlah karena ia membuat kita sedih sesaat.
Masalahnya adalah karena ia perlahan mengubah cara kita memandang hidup.
Kita mulai menilai diri berdasarkan standar eksternal.
Kita mulai melupakan pencapaian yang sudah diraih.
Kita mulai menganggap kehidupan biasa sebagai kegagalan.
Padahal sebagian besar kehidupan yang bermakna justru dibangun dari hal-hal yang sederhana dan tidak selalu terlihat menarik di media sosial.
Hubungan yang sehat.
Pekerjaan yang stabil.
Kesehatan yang baik.
Keluarga yang mendukung.
Waktu untuk beristirahat.
Ketenangan pikiran.
Semua itu jarang menjadi viral.
Namun justru sering menjadi sumber kebahagiaan yang paling bertahan lama.
Mungkin karena pada akhirnya, hidup tidak pernah benar-benar tentang siapa yang paling cepat, paling kaya, atau paling populer.
Hidup lebih sering tentang siapa yang mampu menemukan ketenangan tanpa harus terus-menerus membandingkan dirinya dengan orang lain.
Dan mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan malam ini adalah:
jika media sosial menghilang selama satu bulan penuh, apakah kita akan merasa hidup kita lebih buruk, atau justru baru menyadari bahwa sebenarnya kita sudah memiliki lebih banyak daripada yang selama ini kita kira?
Referensi
- Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes.
- Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out.
- Twenge, J. M. (2017). iGen
- Haidt, J. (2024). The Anxious Generation
- Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow
Stevhen Tjiontara
Menulis tentang uang, perilaku manusia, dan realita kehidupan modern.
Relate parah sih
BalasHapuskeren ka
BalasHapusdeep banget wkwkwkwk
BalasHapus