Hidup di Media Sosial Kelihatan Glamor, Tapi Aslinya Malah Bikin Pusing 7 Keliling

Sekarang tuh media sosial udah kayak bagian dari hidup sehari-hari. Bangun tidur buka Instagram, sebelum tidur scroll TikTok, lagi makan buka story orang. Lama-lama, tanpa sadar kita jadi lebih sering lihat kehidupan orang lain dibanding fokus sama hidup sendiri. Rasanya sehari aja nggak buka media sosial tuh kayak ada yang kurang.

Yang sering bikin kepikiran itu karena di media sosial semuanya kelihatan “sempurna.” Ada yang liburan terus, nongkrong di cafe mahal, ganti outfit tiap minggu, beli gadget baru, sampai upload hidup yang kelihatannya happy terus tanpa masalah. Pas lihat itu semua, kadang muncul pikiran, “Kok hidup orang enak banget ya?”

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, media sosial itu cuma potongan terbaik dari hidup seseorang. Orang jarang upload capeknya kerja, pusing mikirin uang, masalah keluarga, tugas yang numpuk, atau overthinking tengah malam. Yang ditampilkan ya biasanya yang bagus-bagus aja. Foto yang di-upload mungkin dipilih dari puluhan foto lain. Senyuman yang kelihatan bahagia di kamera belum tentu menggambarkan keadaan sebenarnya.

Tapi anehnya, walaupun kita tahu itu cuma “highlight” kehidupan orang, tetap aja kadang kebawa perasaan. Jadi pengen ikut ini itu biar nggak keliatan ketinggalan. Lihat teman nongkrong di tempat hits, kita jadi pengen juga. Lihat orang update barang baru, kita mulai ngerasa barang kita kurang bagus. Akhirnya mulai maksa gaya hidup yang sebenarnya belum tentu sesuai kemampuan sendiri.

Kadang media sosial juga bikin kita merasa harus selalu terlihat sibuk, bahagia, dan produktif. Kalau lagi diem di rumah, malah ngerasa hidup kita membosankan dibanding orang lain. Padahal belum tentu juga mereka sebahagia yang terlihat di layar handphone.

Ada yang rela beli barang mahal cuma buat konten. Ada yang nongkrong terus karena takut dibilang nggak gaul. Bahkan ada juga yang sebenarnya lagi banyak pikiran, tapi di story tetap keliatan paling bahagia. Caption-nya penuh kata-kata positif, fotonya penuh senyum, padahal habis itu balik lagi mikirin hidup sendirian.

Dan jujur aja, hidup kayak gitu capek.

Capek karena jadi sibuk ngejar validasi orang lain. Capek karena terlalu sering bandingin hidup sendiri sama kehidupan orang di media sosial. Ujung-ujungnya malah bikin pusing sendiri, padahal belum tentu orang yang kita lihat itu benar-benar sebahagia yang ditampilkan.

Kadang kita juga jadi lupa menikmati hidup sendiri karena terlalu fokus melihat hidup orang lain. Lagi makan enak malah sibuk foto dulu. Lagi jalan-jalan malah mikirin konten apa yang bagus buat di-upload. Sampai akhirnya, momen yang harusnya dinikmati malah berubah jadi ajang pembuktian ke orang lain.


Yang lebih bahaya lagi, media sosial sering bikin standar kebahagiaan jadi berubah. Seolah-olah hidup bahagia itu harus liburan terus, punya barang mahal, nongkrong tiap minggu, atau selalu punya kehidupan yang ramai. Padahal kenyataannya, bahagia tiap orang beda-beda. Ada yang bahagia cukup makan bareng keluarga. Ada yang bahagia bisa tidur tenang tanpa banyak pikiran. Ada juga yang bahagia karena punya sedikit waktu buat dirinya sendiri setelah hari yang melelahkan.

Makin ke sini saya mulai sadar kalau hidup nggak harus selalu terlihat wah di media sosial. Nggak semua momen harus diposting. Nggak semua hal harus dibuktikan ke orang lain. Kadang hidup yang tenang, sederhana, dan nggak banyak pencitraan justru lebih bikin lega.

Sekarang saya lebih suka menikmati momen tanpa terlalu mikirin harus upload apa. Kalau lagi nongkrong ya dinikmati aja suasananya. Kalau lagi kumpul sama orang tersayang ya fokus ngobrolnya, bukan sibuk cari angle foto terbaik. Karena ternyata, kebahagiaan yang paling enak itu bukan yang paling banyak dilihat orang, tapi yang benar-benar kita rasain sendiri.

Saya juga mulai belajar kalau nggak apa-apa hidup biasa aja. Nggak harus selalu mengikuti tren. Nggak harus memaksakan diri demi terlihat keren di internet. Karena hidup bukan perlombaan siapa yang paling terlihat bahagia.

Kadang kita cuma butuh berhenti sebentar dari layar handphone dan kembali ngobrol sama diri sendiri. Apa yang sebenarnya kita cari? Kebahagiaan beneran, atau cuma pengakuan dari orang lain?

Jadi kalau sekarang kamu lagi ngerasa hidupmu “kurang” gara-gara terlalu sering lihat kehidupan glamor di media sosial, mungkin kamu cuma terlalu lama lihat layar, sampai lupa kalau hidup nyata nggak selalu harus terlihat sempurna.

Karena pada akhirnya, hidup yang paling menenangkan bukan hidup yang paling dipuji orang lain, tapi hidup yang bikin kita nyaman jadi diri sendiri.

Kadang yang paling kelihatan bahagia di internet, justru yang paling pusing di kehidupan nyata.

Ghani Elang Pratama

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.

Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Antara Terlihat Cukup dan Benar-Benar Cukup