Generasi yang Takut Ketinggalan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Mengapa kita terus berlari dalam perlombaan yang tidak pernah kita mulai
"Mungkin masalah terbesar generasi hari ini bukan karena mereka tidak punya tujuan, melainkan karena terlalu banyak tujuan yang mereka lihat setiap hari."
Ada sebuah fenomena yang menarik jika kita memperhatikan kehidupan anak muda hari ini. Kita hidup di masa ketika informasi bergerak lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mencernanya. Setiap pagi ketika membuka media sosial, kita langsung disambut oleh pencapaian orang lain. Ada yang baru lulus, ada yang baru diterima kerja, ada yang sedang berlibur ke luar negeri, ada yang membeli mobil baru, hingga seseorang yang usianya lebih muda tetapi terlihat sudah memiliki semua yang kita impikan.
Yang menarik, sebagian besar dari informasi tersebut sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan hidup kita. Namun otak manusia tidak dirancang untuk membedakan mana informasi yang relevan dan mana yang tidak. Yang ditangkap hanyalah satu kesan sederhana: orang lain terlihat bergerak lebih cepat.
Di sinilah perasaan tertinggal mulai muncul.
Di era digital, kita tidak hanya menjalani hidup sendiri, tetapi juga menyaksikan kehidupan ratusan orang setiap hari.
Ironisnya, banyak orang yang merasa tertinggal sebenarnya sedang berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Mereka memiliki pekerjaan, pendidikan, keluarga yang mendukung, bahkan beberapa pencapaian yang patut dibanggakan. Namun semua itu mendadak terasa kecil ketika dibandingkan dengan kehidupan orang lain yang muncul di layar setiap hari. Bukan karena pencapaiannya tidak berarti, tetapi karena standar perbandingannya terus berubah.
Dulu seseorang mungkin merasa bangga ketika berhasil membeli kendaraan pertamanya. Sekarang kebanggaan itu sering hanya bertahan beberapa hari sebelum tergantikan oleh pikiran lain: ternyata ada orang seusia saya yang sudah membeli rumah. Dulu seseorang merasa puas setelah mendapatkan pekerjaan yang layak. Sekarang rasa puas itu sering hilang ketika melihat orang lain memamerkan jabatan yang lebih tinggi atau penghasilan yang lebih besar.
Masalahnya bukan pada pencapaian orang lain. Masalahnya adalah bagaimana kita memaknai pencapaian tersebut.
Dalam psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai social comparison theory yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Secara sederhana, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menilai dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain. Pada masa lalu, mekanisme ini mungkin membantu manusia beradaptasi dalam kelompok sosial yang kecil. Namun di era digital, mekanisme yang sama bekerja dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih intens. Kita tidak lagi membandingkan diri dengan lima atau sepuluh orang, melainkan dengan ratusan orang setiap hari.
Yang membuatnya lebih rumit adalah kita hampir selalu membandingkan bagian terburuk dari hidup kita dengan bagian terbaik dari hidup orang lain.
Kita mengetahui seluruh masalah yang kita hadapi. Kita tahu berapa saldo rekening kita. Kita tahu kecemasan yang kita simpan sendiri. Kita tahu kegagalan yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun. Sementara itu, yang kita lihat dari orang lain hanyalah hasil akhirnya. Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat stres yang mereka alami selama bertahun-tahun. Kita melihat foto liburan, tetapi tidak melihat tekanan pekerjaan yang mungkin mereka hadapi. Kita melihat keberhasilan, tetapi tidak melihat proses dan pengorbanannya.
Perbandingan seperti ini tidak pernah adil. Namun anehnya, kita tetap melakukannya.
Sering kali kita membandingkan seluruh perjalanan hidup kita dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain.
Media sosial memperkuat kondisi tersebut dengan cara yang sangat halus. Platform-platform digital dirancang untuk menampilkan hal-hal yang menarik perhatian. Konten yang mendapat banyak interaksi biasanya adalah konten yang menunjukkan pencapaian, kemewahan, pengalaman unik, atau sesuatu yang membuat orang lain merasa kagum. Akibatnya, kita terpapar pada gambaran kehidupan yang tampak jauh lebih sempurna daripada kenyataan.
Lama-kelamaan, ekspektasi kita terhadap kehidupan ikut berubah.
Apa yang dulu dianggap luar biasa kini terasa biasa.
Apa yang dulu dianggap cukup kini terasa kurang.
Apa yang dulu menjadi impian kini hanya menjadi titik awal.
Tanpa sadar, kita mulai menjalani hidup berdasarkan standar yang tidak pernah kita pilih sendiri.
Inilah yang membuat banyak anak muda hari ini merasa lelah meskipun mereka tidak berhenti bergerak. Mereka terus belajar, bekerja, membangun karier, dan mencoba berkembang. Namun rasa puas sulit ditemukan karena selalu ada target baru yang muncul dari luar diri mereka.
Seseorang yang berhasil mendapatkan pekerjaan pertama merasa harus segera memiliki kendaraan. Setelah memiliki kendaraan, muncul keinginan untuk memiliki kendaraan yang lebih baik. Setelah itu muncul target lain. Rumah. Investasi. Bisnis. Liburan. Jabatan. Pengakuan sosial.
Tidak ada yang salah dengan ambisi. Justru ambisi sering menjadi bahan bakar untuk berkembang. Namun ambisi yang lahir dari tekanan sosial memiliki karakter yang berbeda. Ia tidak pernah memberikan rasa cukup.
Karena tujuan sebenarnya bukan mencapai sesuatu.
Tujuannya adalah mengejar orang lain.
Dan ketika hidup berubah menjadi perlombaan melawan orang lain, garis finis tidak akan pernah terlihat.
Fenomena ini juga mulai memengaruhi cara kita mengelola uang. Banyak keputusan finansial yang sebenarnya tidak lahir dari kebutuhan, tetapi dari ketakutan. Takut terlihat tertinggal. Takut dianggap kurang berhasil. Takut tidak relevan. Takut berbeda dari lingkungan sekitar.
Akibatnya, konsumsi sering kali menjadi alat untuk membeli rasa aman secara sosial. Kita membeli barang tertentu bukan karena fungsinya, tetapi karena maknanya. Kita memilih tempat tertentu bukan karena kualitasnya, tetapi karena simbol yang melekat padanya. Kita menghabiskan uang untuk mempertahankan citra yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi kehidupan kita sendiri.

Mungkin hidup bukan tentang mengejar orang lain, melainkan memahami ke mana kita sebenarnya ingin pergi.
Ada sebuah paradoks dalam kehidupan modern. Teknologi membuat hidup lebih nyaman dibanding generasi sebelumnya. Akses informasi lebih mudah. Pilihan karier lebih banyak. Kesempatan belajar tersedia di mana-mana. Namun pada saat yang sama, tingkat kecemasan sosial juga meningkat. Kita memiliki lebih banyak peluang, tetapi juga lebih banyak alasan untuk merasa kurang.
Mungkin karena kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain dan terlalu jarang melihat ke dalam diri sendiri.
Padahal jika dipikirkan lebih dalam, setiap orang memulai dari titik yang berbeda. Ada yang lahir dengan akses dan kesempatan yang lebih besar. Ada yang harus bekerja lebih keras untuk mencapai hal yang sama. Ada yang menemukan jalannya lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.
Membandingkan perjalanan hidup yang berbeda seolah-olah semuanya dimulai dari garis yang sama adalah kesalahan yang sering tidak kita sadari.
Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan dengan peserta lain. Hidup lebih mirip perjalanan pribadi yang memiliki ritme masing-masing. Ada orang yang mencapai sesuatu di usia dua puluh lima tahun. Ada yang baru mencapainya di usia empat puluh tahun. Ada yang menemukan kebahagiaan dalam karier. Ada yang menemukannya dalam keluarga. Ada yang mengejarnya melalui pencapaian. Ada yang menemukannya dalam kesederhanaan.
Tidak ada satu pola yang berlaku untuk semua orang.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah seberapa jauh kita tertinggal dari orang lain, tetapi seberapa jauh kita sudah berkembang dibanding diri kita yang dulu.
Karena ketika fokus kita terus tertuju pada kehidupan orang lain, kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa kurang. Namun ketika kita mulai melihat perjalanan kita sendiri, mungkin kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita sudah melangkah jauh lebih jauh daripada yang selama ini kita sadari.
Dan mungkin, pertanyaan yang paling penting bukanlah "apakah saya sudah sejauh mereka?" melainkan:
"Apakah kehidupan yang sedang saya kejar ini benar-benar saya inginkan, atau hanya sesuatu yang membuat saya takut terlihat tertinggal?"
Referensi
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, and Behavioral Correlates of Fear of Missing Out. Computers in Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow.
Twenge, J. M. (2017). iGen.
Haidt, J. (2024). The Anxious Generation.
Stevhen Tjiontara
Menulis tentang uang, perilaku manusia, dan realita kehidupan modern.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar