Di Media Sosial Makan Fancy, Tapi Aslinya Lagi Nahan Lapar Demi Konten dan Validasi

Sekarang coba deh buka media sosial sebentar aja. Scroll Instagram atau TikTok beberapa menit, pasti nggak jauh-jauh dari konten makanan mahal, cafe estetik, rooftop dinner, atau restoran fancy dengan plating cantik dan lighting yang bikin semuanya keliatan mewah. Kadang baru bangun tidur aja udah disambut video orang makan steak mahal, sushi premium, brunch lucu, sampai dessert yang harganya mungkin sama kayak uang makan beberapa hari.

Dan jujur aja… lama-lama kita jadi ikut kepengen.

Awalnya mungkin cuma lihat karena lewat di timeline. Tapi makin sering lihat, makin muncul rasa penasaran. “Emang seenak itu ya?” atau “Kapan ya bisa nyobain juga?” Ditambah lagi kalau teman-teman sekitar mulai upload nongkrong di tempat-tempat mahal. Rasanya jadi kayak ada tekanan kecil buat ikut juga biar nggak keliatan “kudet” atau ketinggalan tren.

Yang tadinya biasa makan sederhana, jadi mulai kepikiran buat sesekali makan fancy demi bisa upload story. Bahkan kadang ada yang rela nabung cukup lama cuma buat satu kali dinner mahal. Sehari-hari makan hemat, ngirit jajan, nahan beli ini itu… tapi begitu gajian atau uang cair, langsung dipakai buat nongkrong di tempat yang “layak masuk Instagram.”

Lucunya, banyak orang sekarang lebih mikirin tempatnya estetik atau nggak dibanding makanannya enak atau nggak.

Kadang sebelum makan aja sibuk foto dulu dari berbagai angle. Geser piring, atur sendok, cari lighting bagus, rekam video boomerang, upload story lengkap sama lagu galau atau jazz biar keliatan classy. Pas makanannya datang, yang dingin bukan suasana… tapi makanannya karena kelamaan difoto.

Dan saya yakin banyak orang pernah ada di fase itu.

Termasuk saya juga mungkin pernah.

Kadang kita nggak sadar kalau media sosial pelan-pelan bikin standar “bahagia” jadi berubah. Seolah hidup yang seru itu harus nongkrong di tempat mahal. Harus makan fancy. Harus update story yang keliatan mewah. Padahal kalau dipikir lagi, habis upload story pun hidup tetap jalan seperti biasa.

Besoknya tetap bangun pagi.

Tetap kerja atau kuliah.

Tetap mikirin uang.

Tetap lihat saldo rekening sambil berharap nggak terlalu turun drastis.

Yang lebih ironis, kadang habis makan mahal satu malam, besoknya balik makan hemat lagi demi nutup pengeluaran kemarin. Ada yang rela beberapa hari makan seadanya cuma karena weekend kemarin pengen “kelihatan hidup.”

Dan itu sebenarnya capek.

Capek karena jadi hidup buat dilihat orang lain.

Capek karena takut dianggap nggak gaul kalau jarang nongkrong.

Capek karena tanpa sadar jadi membandingkan hidup sendiri sama orang lain di internet.

Padahal yang kita lihat di media sosial itu cuma beberapa detik terbaik dari hidup seseorang. Kita nggak tahu setelah foto estetik itu diambil, apakah mereka juga lagi mikirin tagihan, lagi stres kerjaan, atau lagi pusing soal keuangan.

Kadang yang keliatan paling sering makan fancy di media sosial justru paling sering nahan di kehidupan nyata.

Dan makin ke sini saya mulai sadar, nggak semua hal harus diposting buat dianggap berarti. Kadang makan di warteg bareng teman dekat bisa jauh lebih nyaman dibanding makan mahal tapi sibuk mikirin konten. Kadang kopi sederhana sambil ngobrol santai malah lebih bikin tenang dibanding nongkrong fancy cuma demi foto.

Saya juga mulai sadar kalau menikmati hidup itu penting, tapi jangan sampai semuanya berubah jadi ajang pembuktian. Karena kalau terus-terusan ngejar validasi, kita nggak akan pernah benar-benar puas. Selalu ada tempat yang lebih mahal. Selalu ada cafe yang lebih estetik. Selalu ada orang yang kelihatannya lebih “wah.”

Kalau terus dibandingin, capeknya nggak akan selesai.

Sekarang saya lebih suka menikmati sesuatu tanpa terlalu sibuk mikirin harus upload apa. Kalau lagi makan enak ya dinikmati aja momennya. Kalau belum bisa hidup fancy tiap minggu juga nggak masalah. Karena hidup bukan lomba siapa yang paling keren di story Instagram.

Pada akhirnya, yang bikin tenang itu bukan feed yang keliatan mewah, tapi hidup yang nggak dipaksakan.

Karena kenyang itu buat diri sendiri, bukan buat followers.

Dan bahagia itu seharusnya dirasain, bukan cuma dipamerin.

Tapi saya juga penasaran…

Kamu pernah nggak sih ada di posisi rela hemat beberapa hari cuma demi bisa nongkrong atau makan fancy buat konten?

Atau mungkin pernah ngerasa capek sendiri gara-gara terlalu sering bandingin hidup sama yang ada di media sosial?

Coba cerita di kolom komentar. Saya pengen tahu ternyata banyak juga nggak yang ngerasain hal yang sama.

Ghani Elang Pratama

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.

Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Antara Terlihat Cukup dan Benar-Benar Cukup