Capek Bukan Alasan, Tapi Jadi Kebiasaan
Ketika lelah dijadikan pembenaran untuk keputusan yang kita tahu salah
“Kita bilang ‘gue capek’, tapi sering kali itu bukan alasan—itu pembenaran.”
Ada satu pola yang sering terjadi, tapi jarang benar-benar disadari. Setiap kali kita merasa lelah—baik secara fisik maupun mental—cara tercepat untuk “mengobati” itu adalah dengan mengeluarkan uang. Entah itu beli makanan, belanja online, atau sekadar nongkrong tanpa tujuan yang jelas. Rasanya seperti ada satu tombol instan: capek → keluar uang → merasa sedikit lebih baik.
Awalnya terasa wajar. Memang tidak ada yang salah dengan menghargai diri sendiri setelah melewati hari yang berat. Tapi yang jadi masalah adalah ketika itu berubah menjadi pola. Ketika setiap emosi negatif selalu direspons dengan cara yang sama. Dan tanpa disadari, kita mulai membentuk kebiasaan yang tidak lagi sehat.
Pelarian yang Terasa Seperti Solusi
Tapi efeknya tidak bertahan lama.
Dan karena tidak bertahan lama, kita mengulanginya lagi. Siklus ini terus berjalan, sampai akhirnya kita tidak lagi sadar bahwa kita sedang menggunakan uang sebagai cara untuk menghindari perasaan.
Ketika Kebiasaan Menggantikan Kesadaran
Yang berbahaya dari kebiasaan adalah—ia bekerja tanpa perlu dipikirkan. Kita tidak lagi bertanya “perlu atau tidak,” tapi langsung bertindak. Refleks.
Capek → buka aplikasi
Stres → cari distraksi
Bosan → checkout sesuatu
Semua terjadi begitu cepat, sampai kita tidak sempat mempertanyakan keputusan kita sendiri.
Refleksi
Mungkin kita tidak benar-benar butuh lebih banyak barang. Mungkin yang kita butuh adalah cara yang lebih sehat untuk menghadapi diri sendiri.
Karena selama kita terus menggunakan konsumsi sebagai pelarian, masalahnya tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya ditunda.
Penutup
Capek itu wajar. Tapi tidak semua kelelahan harus dibayar dengan uang.
Dan mungkin, pertanyaan yang bisa kita mulai dari diri sendiri adalah:
ketika kita merasa lelah, apakah kita sedang mencari solusi… atau hanya pelarian?
—
Stevhen Tjiontara
Komentar
Posting Komentar