Tes Jujur: Kamu Lagi Butuh, atau Cuma Lagi Laper Validasi?

Coba kita main game sebentar.

Tenang aja, ini bukan tes yang ada benar atau salahnya. Nggak ada nilai, nggak ada yang bakal nge-judge. Tapi satu syaratnya: kamu harus jujur sama diri sendiri.

Karena seringkali, yang bikin kita “salah arah” itu bukan karena kita nggak tahu… tapi karena kita nggak mau jujur.


Skenario 1: Scroll yang Berujung “Harus Ikut”

Kamu lagi rebahan. Nggak ada kerjaan, cuma buka Instagram atau TikTok buat killing timeScroll… scroll… scroll… Sampai akhirnya kamu lihat story teman kamu. Dia lagi di Scarlett’s Cafe, pegang dessert yang lagi viral, lighting-nya cakep banget, outfit-nya juga on point. Kelihatan santai, tapi “niat”.

Kamu berhenti di situ agak lama. Bukan cuma sekilas lewat. Kamu lihat detailnya: tempatnya, makanannya, suasananya. Lalu tanpa sadar, muncul pikiran kecil:

“Kayaknya gue harus ke sana deh.” Atau mungkin yang lebih jujur: “Gue kok belum ke sana ya?”

Di titik ini, kamu belum buka maps. Belum ngajak siapa-siapa. Tapi keinginan itu sudah muncul. Dan biasanya, keinginan itu nggak datang dari kebutuhan. Tapi dari perasaan: “gue nggak mau ketinggalan.”

Skenario 2: Ajakan yang Sebenarnya Kamu Tahu Jawabannya

Hari Jumat malam. Kamu lagi di rumah. Badan capek, kepala juga penuh karena kerjaan. Tiba-tiba grup WhatsApp bunyi: “Gas ke Lucy in the Sky yuk, lagi enak nih!”

Kamu baca. Nggak langsung jawab. Kamu tahu kondisi kamu: lagi capek, pengen istirahat, dan kalau jujur… saldo juga nggak lagi santai. Kamu bahkan sempat buka m-banking, lihat angka di sana, lalu langsung ditutup lagi.

Di titik ini, sebenarnya kamu sudah tahu jawabannya: harusnya nggak ikut.

Tapi masalahnya muncul beberapa menit kemudian, waktu teman-teman kamu mulai kirim foto suasana, video singkat, dan celetukan “rame banget anjir”. Tiba-tiba kamu ngerasa ada yang ketinggalan. Bukan uangnya. Bukan tempatnya. Tapi momennya.

Akhirnya kamu ngetik: “Gue nyusul ya.”

Dan di detik itu, keputusan kamu bukan lagi soal kondisi… tapi soal perasaan.

Skenario 3: Checkout yang Terasa “Layak”


Kamu lagi buka e-commerce. Awalnya cuma iseng, cuma mau lihat-lihat. Tapi lama-lama sepatu masuk wishlisthoodie yang lagi tren masuk keranjang, sampai barang kecil yang sebenarnya nggak penting juga ikut masuk.

Kamu lihat totalnya. Lumayan. Nggak murah. Kamu sempat mikir: “Perlu nggak ya?” Dan di situ biasanya muncul kalimat paling powerful:

“Gue kerja capek-capek masa nggak boleh nikmatin?”

Kalimat itu terdengar masuk akal. Dan memang benar—kita berhak menikmati hasil kerja kita. Tapi kadang, yang kita lakukan bukan menikmati. Kita cuma… mengobati rasa capek dengan cara yang paling cepat. Dan akhirnya, tanpa banyak diskusi sama diri sendiri, kamu checkout.


Ini Bukan Soal Kamu Boros

Kalau kamu relate sama satu atau dua skenario tadi, santai. Ini bukan berarti kamu boros. Bukan berarti kamu nggak bisa ngatur uang. Karena kalau cuma soal “boros”, harusnya gampang: tinggal berhenti.

Tapi kenyataannya? Kita tahu itu nggak perlu. Kita tahu itu bisa ditunda. Tapi tetap kita lakukan. Kenapa?

Karena yang Kita Kejar Bukan Barangnya

Coba pikir lagi. Waktu kamu pengen ke Scarlett’s Cafe, yang kamu cari benar-benar makanannya? Atau suasana yang bisa kamu rasain dan tunjukin? Waktu kamu ikut ke Lucy in the Sky, yang kamu cari benar-benar ngobrolnya? Atau rasa kalau kamu masih “ada” di dalam circle itu?

Kadang, yang kita beli itu bukan barang. Tapi perasaan. Perasaan:

  • Nggak ketinggalan
  • Masih nyambung
  • Masih “hidup” seperti yang orang lain lihat

Masalahnya, perasaan itu nggak pernah bertahan lama.

Validasi Itu Nggak Pernah Cukup

Awalnya terasa enak. Upload story → ada yang lihat → ada yang reply → ada yang like. Ada rasa puas. Tapi besok? Butuh lagi.

Dan pelan-pelan, standar kamu naik. Yang dulu sudah cukup, sekarang terasa biasa. Yang dulu bikin senang, sekarang harus lebih “niat” lagi. Dan tanpa sadar, kamu mulai hidup bukan untuk diri sendiri… tapi untuk mempertahankan perasaan itu.


Jadi… Kamu Lagi Butuh, atau Laper Validasi?

Lain kali kamu mau melakukan sesuatu—mau nongkrong, beli barang, atau ikut tren—coba kasih jeda sedikit. Nggak perlu lama. Cuma tanya ke diri sendiri:

“Gue butuh ini… atau gue cuma nggak mau ketinggalan?”

Kalau jawabannya yang kedua, kamu nggak harus langsung berhenti. Tapi setidaknya, kamu sadar. Dan itu sudah langkah besar. Karena jujur aja… yang bikin kita capek itu bukan pengeluarannya. Tapi tekanan untuk selalu ikut.

Dan percaya deh, hidup kamu nggak akan berubah cuma karena kamu nggak upload story malam ini.

————————

Kevin Imanuel

Komentar

  1. Kalau saya tetep beli sesuai kebutuhan meskipun bisa beli barang branded semacamnya.

    BalasHapus
  2. Dari saya tetep membeli barang sesuai kebutuhan aja

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.

Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Antara Terlihat Cukup dan Benar-Benar Cukup