“Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Cerita Kita yang Lagi Berusaha Bertahan”


Pernah tidak, merasa capek padahal sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang terlalu berat?

Bukan capek fisik, tapi capek di kepala. Banyak hal dipikirkan, tapi tidak semuanya jelas. Mau dibilang punya masalah besar, tidak juga. Tapi kalau dibilang baik-baik saja, rasanya juga tidak sepenuhnya benar.

Kadang yang membuat lelah itu bukan kenyataan yang sedang dijalani, tapi kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Masa depan terasa dekat sekaligus jauh. Ingin dipikirkan, tapi di saat yang sama juga terasa menakutkan.

Akhirnya, banyak dari kita memilih satu cara yang paling sederhana: jalani saja dulu hari ini, urusan besok dipikirkan nanti.

Akhir-akhir ini saya sering berpikir, kenapa ya hidup rasanya makin ke sini makin berat, tapi kita semua tetap menjalani hari seperti biasa. Bangun pagi, melakukan aktivitas, bertemu orang, bercanda, tertawa… tapi di dalam pikiran tetap ada sesuatu yang belum selesai.

Kadang rasa lelah itu bukan hanya karena pekerjaan, tapi karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Tentang masa depan, keuangan, karier, hubungan, bahkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan terlalu dalam. Tapi pikiran memang tidak bisa dimatikan begitu saja.

Di tengah kondisi seperti itu, saya mulai menyadari satu hal: banyak dari kita sekarang menjalani hidup dengan prinsip “jalani saja dulu, pusing nanti.” Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan terkesan santai. Tapi sebenarnya, itu bukan karena kita tidak peduli. Justru karena terlalu banyak yang dipikirkan, akhirnya kita memilih berhenti sejenak.

Tidak semua orang punya energi untuk memikirkan masa depan setiap saat. Ada yang hari ini saja masih berusaha untuk cukup. Cukup secara finansial, cukup secara mental, dan cukup kuat untuk tetap melanjutkan hari. Jadi ketika ada yang bertanya “kenapa tidak mulai memikirkan masa depan?”, kadang itu terdengar mudah diucapkan, tapi tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama.

Belum lagi jika kita membuka media sosial. Banyak orang terlihat sedang berada di titik terbaik hidupnya. Ada yang mendapatkan pekerjaan baru, ada yang bepergian, ada yang membangun hubungan, bahkan ada yang terlihat hidupnya sangat tertata. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri sendiri.

Padahal kita tahu, yang terlihat di sana hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka.

Namun tetap saja, terkadang perasaan itu muncul. Kita merasa tertinggal, merasa kurang, merasa harus segera mencapai sesuatu. Padahal bisa jadi, kita hanya membutuhkan waktu yang berbeda, bukan berarti kita gagal.

Di situ biasanya muncul pikiran “ya sudah, jalani saja dulu. Nikmati yang ada sekarang.” Dan jujur, cara berpikir seperti itu kadang membantu. Kita bisa sedikit lebih lega, bisa tertawa tanpa terlalu memikirkan hal yang belum terjadi, dan bisa benar-benar merasakan momen saat ini.

Tetapi di sisi lain, saya juga menyadari bahwa jika terlalu sering “pusing belakangan”, kita bisa kehilangan arah. Hidup terasa berjalan begitu saja. Bangun, beraktivitas, lalu tidur, dan mengulang hal yang sama. Tidak ada yang salah, tetapi jika terus seperti itu, kita bisa lupa sebenarnya ingin menuju ke mana.

Contohnya dalam hal keuangan. Kita sering berpikir “yang penting hari ini cukup.” Tapi jika tidak mulai mempersiapkan sedikit demi sedikit, ke depannya bisa menjadi beban. Begitu juga dengan kesehatan, baik fisik maupun mental. Kita sering menunda istirahat atau mengabaikan kondisi diri sendiri karena merasa harus terus berjalan.

Padahal, tubuh dan pikiran kita juga memiliki batas.

Menurut saya, mungkin yang kita butuhkan bukan memilih antara “hidup sekarang” atau “memikirkan masa depan,” tetapi bagaimana keduanya bisa berjalan bersamaan. Tidak harus langsung sempurna, tidak perlu terlalu besar, tapi dimulai dari hal-hal kecil.

Menikmati hari ini tetap penting, tetapi memiliki arah untuk masa depan juga tidak kalah penting. Misalnya dengan menyisihkan sedikit uang, menjaga kesehatan, atau memiliki tujuan sederhana yang ingin dicapai.

Kadang kita juga terlalu keras pada diri sendiri. Merasa harus cepat berhasil, harus sudah mencapai ini dan itu di usia tertentu. Padahal, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tidak ada standar waktu yang benar-benar sama.

Semua orang sedang berperoses.


Ada yang terlihat cepat, tapi mungkin sedang lelah. Ada yang terlihat santai, tapi sebenarnya sedang membangun sesuatu secara perlahan. Dan kita pun demikian, sedang menjalani proses yang mungkin tidak selalu terlihat.

Saya juga mulai belajar untuk lebih jujur pada diri sendiri. Ketika merasa lelah, saya mencoba memberi waktu untuk beristirahat. Ketika merasa tidak baik-baik saja, saya mencoba menerimanya tanpa harus memaksakan diri terlihat kuat.

Karena pada akhirnya, kita semua manusia.

Dan soal masa depan, tidak semuanya harus jelas sekarang. Tidak semua harus dipahami hari ini. Yang penting kita tetap berjalan, walaupun pelan. Tetap mencoba, walaupun ragu.

“Hidup sekarang, pusing belakangan” mungkin bukan cara hidup yang ideal. Tapi dalam kondisi tertentu, itu bisa menjadi cara kita bertahan. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

Selama kita tidak sepenuhnya kehilangan arah.

Mungkin yang lebih tepat bukan “pusing belakangan”, tetapi “pelan-pelan saja.” Tidak perlu terburu-buru. Tidak perlu terus membandingkan diri. Tidak perlu memaksakan semuanya harus selesai sekarang.

Karena kenyataannya, hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Dan itu tidak apa-apa.

Selama kita masih mau berjalan, masih mau mencoba, dan masih mau bertahan, itu sudah lebih dari cukup.

Jadi jika hari ini terasa berat, jalani saja dulu. Tidak harus langsung memahami semuanya. Tidak harus langsung kuat juga.

Yang penting, jangan berhenti.

Karena terkadang, bertahan saja sudah menjadi bentuk keberanian yang besar. 

Ghani Elang Pratama

Komentar

  1. KEREEEEEN BANGEEEETTTT SUCH A GOOD POSSTTT!!!!!!! RELATEEE BGTT KAAK

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak telah membantu menyampaikan pesan terhadap tulisan saya..

      Hapus
  2. Cara penyampaiannya oke banget jadi ikut relate kan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. izin koreksi komenannya. Sebaiknya setelah kata banget diletakan "," agar sesuai kaidah kebahasaan yang ada. lanjutkan...

      Hapus
  3. tulisannya insightful 🙏 lanjutkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih banyak kaa.. nanti saya akan buat lagi dengan konten yang lebih menarik lagii

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Tanpa Beban Bersama Teman, Lupakan Masa Depan

Lebih Takut Kurang Gaul atau Kurang Saldo? Sebuah Kejujuran Pahit.

Hidup Sekarang, Pusing Belakangan: Antara Terlihat Cukup dan Benar-Benar Cukup