FOMO Belanja Bikin Bokek: Penutup Lubang yang Makin Dalam
Oleh: Gracella Felicia
Pernah gak sih kamu buka Marketplace karna lagi "iseng", ehh.... tiba-tiba CO (checkout) 2 barang? 3 barang? atau jangan-jangan 5 barang sekaligus?? Padahal niatnya cuma liat-liat, akhirnya malah keluar uang parahnya lagi itu bukan barang yang gsk terlalu dibutuhin bahkan malah gak butuh.Kalau kamu gitu juga, mungkin kamu lagi kena FOMO belanja!!!
Scroll Dikit CO Banyak
Di era sekarang, godaan belanja tuh gak ada abisnya. Flash sale tiap jam gas CO, diskon gede gas CO lagi, belum lagi "racun" Tik Tok atau Instagram. Semua terasa mendesak, seakan kalo gak beli sekarang kapan lagi coba.
Padahal, sering kali yang kita kejar bukan barangnya tapi perasaan "nggak mau ketinggalan".
FOMO: Takut Ketinggalan atau Takut gak Dianggap
Apa sih FOMO itu? FOMO atau kependekan dari Fear of Missing Out, artinya rasa cemas atau takut tertinggal momen penting, tren, atau informasi baru, terutama saat melihat aktivitas orang lain di media sosial. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Istilah FOMO pertama kali dicetuskan oleh Dr. Andrew K. Przybylski pada tahun 2013 untuk menjelaskan kecemasan ini.
Kenapa sebenarnya orang-orang takut tertinggal atau FOMO? Orang paling mungkin mengalami FOMO karena merasa hidupnya belum cukup dibanding orang lain, hal ini memunculkan rasa minder dan berusaha mengejar berbagai hal yang tren saat itu.
Belanja Jadi Pelarian, Bukan kebutuhan
Yang bahaya dari FOMO bukan cuma cuma soal belanja, tapi alasan lain yang mungkin menjadi pemicunya, seperti kondisi pikiran yang sedang stres, merasa kekurangan sesuatu, self-reward. Sehingga belanja sebagai pelarian, kondisi ini sering kali dipimpin oleh emosi ketimbang logika.
Ironisnya setelah merasa senang berbelanja, ketika sadar uang habis. Uang habis tabungan terpaksa dikeluarkan, bahkan mulai menggunakan paylater atau utang.
Realita yang Sering Diabaikan
Banyak orang berpikir pengeluaran kecil itu tidak berdampak dengan pemikiran: "cuma 10 ribu.... alah cuma 30 ribu...." "wahhh diskon 50%" yang menjadi pembenaran.
Padahal secara akumulatif, justru pengeluaran kecil yang berulang inilah yang paling sering menggerus kondisi keuangan tanpa disadari. Secara perilaku, ini dikenal sebagai small spending trap, yaitu kecenderungan meremehkan nilai kecil karena tidak terasa langsung dampaknya. Namun jika dilakukan terus-menerus, efeknya menjadi signifikan.
Sebagai ilustrasi, dengan Rp. 30.000,00 per hari dikalikan 30 hari maka dalam sebulan saja menjadi Rp. 900.000,00 dalam setahun Rp. 10.800.000,00. Dengan jumlah ini seharusnya cukup menjadi dana darurat, diinvestasikan atau ditabung, bahkan untuk kebutuhan lain yang jauh lebih penting.
Ditambah lagi "flash sale", "limited stock", dan "diskon besar" yang secara psikologis dirancang untuk menciptakan tekanan agar konsumen segera membeli tanpa berpikir panjang. Ini disebut sebagai scarcity effect, di mana sesuatu terasa lebih bernilai hanya karena dianggap langka atau terbatas.
Masalah lain yang sering tidak disadari adalah penggunaan fitur seperti paylater. Secara kognitif, sistem ini membuat konsumen merasa:
“Saya belum benar-benar mengeluarkan uang”
Padahal secara finansial, kewajiban tetap ada—bahkan sering disertai bunga atau biaya tambahan. Akibatnya, muncul fenomena illusory affordability, yaitu ilusi bahwa seseorang mampu membeli sesuatu hanya karena pembayaran ditunda.
Pada akhirnya, kebocoran keuangan bukan berasal dari satu keputusan besar, tetapi dari banyak keputusan kecil yang tidak dikontrol.
Tips Keluar dari Jebakan FOMO
Nggak langsung berubah drastis, mulai aja dulu dari yang paling sederhana pertama coba aja dulu tahan 1 hari sebelum beli sesuatu di waktu ini kamu sekalian cari cari lagi mungkin ada pilihan yang harganya lebih murah dengan kualitas sama,setelah 1 hari kalo masih pengen maka bisa dipertimbangkan lagi.
Kedua, menanyakan ke diri sendiri apa bener kebutuhan atau cuma kemauan? kalau cuma sekedar mau lebih baik di tunda dulu karna biasanya rasa "mau" akan hilang tanpa perlu desakan. Tidak seperti kebutuhan yang harus terpenuhi bukan demi kepuasan tapi kegunaannya yang dibutuhkan, contoh sabun adalah barang yang dibutuhkan untuk mandi sedangkan shower bomb bukan barang yang benar-benar dibutuhkan untuk mandi melainkan pelengkap opsional.
Ketiga, mengurangi "racun digital" yang menjadi salah satu penyebab FOMO. Langkah yang perlu dilakukan yaitu unfollow atau berhenti mengikuti, bisa juga melewati konten yang memicu tindakan impulsif.
Keempat, membuat batasan uang jajan yang bisa dibelanjakan per hari atau per bulan. Ini membantu agar tidak kebablasan, selain itu dengan batasan ini keuangan kamu akan lebih terkontrol karna dengan batasan kamu akan rajin mencatat pengeluaran secara detail sehingga pengeluaran terkecil pun akan terlihat.
Kelima, menyadarkan diri sendiri bahwa mengikuti tren bukanlah kewajiban dan tidak masalah untuk tidak mengikuti, karena tidak semua hal harus dimiliki.
Intinya, jangan terlalu terfokus pada tren, tapi fokuslah pada diri kita sendiri apa yang kita inginkan atau apa yang kita butuh karna apa yang dibutuhkan atau inginkan orang lain belum tentu menjadi apa yang kita inginkan.


sangat meyindir aku yg suka fomo apalagi klo tgl kembar:>
BalasHapuswah informasi yang sangat berguna
BalasHapus๐๐๐๐
BalasHapustertampar sekaliiih aku
BalasHapusSangat betull sekali
BalasHapusWuihh
BalasHapusMantapppp
BalasHapus